Sabtu, 18 Agustus 2012

Materi Manajemen Keuangan


2.1 Peran dan Tanggung Jawab Manajer Keuangan
Menurut Fred Weston, dkk (Manajemen Keuangan. Edisi Kedelapan. 1994: 3),  pengertian manajemen keuangan dapat dirumuskan oleh fungsi dan tanggung jawab para manajer keuangan. Meskipun fungsi dan tanggung jawab manajer keuangan berbeda-beda disetiap organisasi, fungsi pokok manajemen keuangan antara lain menyangkut keputusan tentang penanaman modal, pembiayaan kegiatan usaha dan pembagian deviden pada suatu perusahaan. Arus dana yang terjadi dalam kegiatan oprasi perusahaan harus terus dipantau. Pihak sumber keuangan akan menerima imbalan dalam bentuk hasil pengembalian, pembayaran kembali, produk dan jasa. Semua organisasi baik perusahaan bisnis, unit pelayanan masyarakat, badan sosial seperti palang merah maupun organisasi nirlaba seperti museum dan lembaga kesenian, harus menjalankan fungsi manajemen keuangan. Dengan demikian tugas pokok manajer keuangan adalah merencanakan untuk menperoleh dana dan menggunakan dana tersebut untuk memaksimisasi nilai perusahaan.
Menurut Erlina (Manajemen Keuangan. 2011 : 1), manajer keuangan berkepentingan dengan penentuan jumlah aktiva yang layak dari investasi pada berbagai aktiva dan memilih sumber-sumber dana untuk membelanjai aktiva tersebut. Untuk memperoleh dana, manajer keuangan bisa memperolehnya dari dalam maupun luar perusahaan. Sumber dari luar perusahaan berasal dari pasar modal, bisa berbentuk hutang atau modal sendiri.
Pendapat Erlina, selaras dengan pendapat Bagus Wiksuana, dkk (Manajemen Keuangan. 2001:13) yang menyatakan bahwa:
 Manajemen keuangan dapat diartikan sebagai manajemen dana baik yang berkaitan dengan pengalokasian dana dalam berbagai bentuk investasi secara efektif maupun usaha pengumpulan dana untuk pembiayaan investasi atau       pembelanjaan secara efisien. Mereka yang melaksanakan kegiatan tersebut sering disebut      sebagai manajer keuangan. Fungsi seorang manajer keuangan pada setiap organisasi pada          prinsipnya sama, yaitu meliputi : pengambilan keputusan pembelanjaan, pengambilan keputusan investasi, dan kebijakan deviden.”
Ketiga peran  atau tugas pokok manajer keuangan akan dijelaskan dibawah ini:
a.    Keputusan Pembelanjaan
Fungsi pertama, manajer keuangan berfungsi sebagai pengambil keputusan atau pembiyaan investasi. Keputusan pembelanjaaan menjawab berbagai pertanyaan penting seperti bagaimana memperoleh kebutuhan dana untuk investasi yang efisien?,  bagaimana komposisi  sumber optimal yang harus dipertahankan?, apakah perusahaansebaiknya menggunakan modal asing ataukah modal sendiri?, adakah pengaruh keputusan pembelanjaan perusahaan terhadap nilai perusahaan?,  serta bagaimanakah bentuk insentif terbaik untuk  untuk meningkatkan insentif manajmen. Melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut nantinya peran manajer keuangan  dalam pemenuhan kebutuhan dana untuk pembiayaan investasi akan semakin kompleks dalam kondisi  globalisasi pasar modal karena pengumpulan dana  tidak lagi terbatas dalam satu Negara tetapi terbuka kesempatan untuk menarik dana dari investor asing. Tanggung jawab manajer keuangan disini menentukan perimbangan yang optimal setiap hutang yang digunakan perusahaan.
b.   Pengambilan Keputusan Investasi
      Fungsi kedua menyangkut tentang alokasi dana baik dana berasal dari dalam perusahaan maupun dana yang berasal dari luar perusahaan pada berbagai bentuk investasi. Secara garis besar keputusan investasi dapat dikelompokkan kedalam investasi jangka pendek seperti, kas, persediaan, piutang, surat berharga, dan investasi jangka panjang  dalam bentuk gedung, peralatan produksi, tanah, kendaraan, dan aktiva tetap lainya. Tanggung jawab manajer keuangan disini menentukan perimbangan yang optimal setiap jenis asset perusahaan.
c.    Kebijakan Deviden
Fungsi ketiga menyangkut pengambilan keputusan dividen (dividend decision) atau dividen policy, yang menyangkut masalah penentuan besarnya persentase dari laba yang akan dibayarkan sebagai dividen tunai kepada para pemegang saham, stabilitas pembayaran dividen, pembagian saham dividen dan pembelian kembali saham-saham. Selain hal tersebut juga ditentukan apakah laba yang diperoleh perusahaan seharusnya dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk deviden kas dan pembelian kembali saham atau laba tersebut sebaiknya ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembelanjaan investasi di masa depan. Apabila manajer keuangan  memutuskan untuk membagikan laba untuk membagikan laba yang diperoleh dalam bentuk deviden, maka ketergantungan terhadap sumber dana eksternal menjadi semakin besar. Sebaliknya apabila manajer keuangan memandang bahwa perusahaan  telah memiliki financial leverage yang tidak menguntungkan, maka sebaiknya laba yang diperoleh ditahan untuk memperbaiki struktur  modal perusahaan. Tanggung jawab manajer keuangan disini menentukan perimbangan yang optimal mengenai kebijakan deviden perusahaan.
Secara sistematis, fungsi manajer keuangan bias digambarkan sebagai berikut:                                    Gambar 2.1
Kegiatan-kegiatan Utama Manajer Keuangan







Sumber: Bagus Wiksuana, dkk (Manajemen Keuangan, 2001:17).
Dari gambar 2.1, terlihat bahwa manajer keuangan perlu memperoleh dana dari pasar keuangan atau financial market (lihat panah 1). Pasar keuangan bisa terjadi di sektor formal (dengan lembaga-lembaga seperti perbankan, asuransi, bursa efek, sewa guna dan lain sebagainya), bisa pula terjadi di sektor informal (dengan lembaga-lembaga seperti arisan, rentenir, ijon, kumpulan  simpan pinjam, dan sebagainya). Kegiatan manajer keuangan pada panah 1 disebut keputusan pembelanjaan atau pembiayaan investasi.
Dana yang diperoleh kemudian diinvestasikan pada berbagai aktiva perusahaan, untuk mendanai kegiatan perusahaan (lihat panah 2). Kegiatan perusahaan ini mengakibatkan perusahaan memiliki aktiva riil baik investasi jangka pendek seperti kas, persediaan, piutang, dan surat berharga maupun investasi jangka panjang dalam bentuk gedung, peralatan produksi, tanah, kendaraan dan aktiva tetap lainnya. Kegiatan manajer pada panah 2 disebut dengan keputusan investasi.
Dari kegiatan investasi, perusahaan mengharapkan untuk memperoleh hasil yang lebih besar dari pengorbanannya. Dengan kata lain, diharapkan diperoleh laba (lihat panah 3), laba yang diperoleh perlu diputuskan untuk dikembalikan ke pemilik dana (pasar keuangan), yaitu panah 4a, atau diinvestasikan kembali ke perusahaan  (anak panah 4b). Kegiatan pada panah 4a dan 4b disebut dengan kebijakan dividen.  
Kegiatan penting lain juga diungkapkan oleh Fred Weston,dkk ( Manajemen Keuangan. Edisi Kedelapan, 1994: 3) mengenai empat aspek  yang harus diperhatikan oleh  manajer, yakni:
1)      Aspek yang pertama yaitu dalam perencanaan dan prakiraan, dimana manajer keuangan  harus bekerjasama dengan para manajer lainnya yang ikut bertanggung jawab atas   perencanaan umum perusahaan.
2)      Aspek yang kedua, manajer keuangan harus memusatkan  perhatian pada berbagai         keputusan investasi dan pembiayaannya, serta segala hal yang berkaitan dengannya. Perusahaan yang berhasil biasanya mengalami laju pertumbuhan penjualan yang tinggi dan memerlukan dukungan penambahan investasi. Para manajer keuangan perlu      menentukan laju pertumbuhan penjualan yang sebaiknya dicapai dan membuat prioritas alternative infestasi yang tersedia. Keputusan yang menyangkut investasi menentukan sumber dan bentuk dana untuk pembiyaan investasi, apakah dana berasal dari sumber internal atau eksternal, hutang atau dana pemegang saham/pemilik dan pembiayaan jangka pendek atau jangka panjang.
3)      Aspek yang ketiga, manajer keuangan harus bekerja sama  dengan para manajer lainnya diperusahaan agar perusahaan dapat beroprasi seefisien mungkin. Semua keputusan bisnis menyangkut implikasi keuangan, dan semua manajer baik manajer keuangan maupun manajer bukan keuangan perlu mempertimbangan aspek keuangan tersebut. Misalnya saja keputusan dibidang pemasaran berpengaruh pada pertumbuhan penjualan penjualan dan akibatnya berpengaruh pada perubahan kebutuhan investasi. Perubahan investasi harus mempertimbangkan dampaknya terhadap (atau bagaimana investasi          dipengaruhi oleh) tersedianyan dana, kebijakan persediaan, penggunaaan kapasitas mesin dan lain sebagainya.
4)      Aspek yang keempat menyangkut penggunaan pasar uang dan pasar modal
Dari empat aspek tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa tugas pokok manajer keuangan adalah berkaitan dengan keputusan investasi dan pembiayaannya. Dalam       menjalankan fungsinya, tugas manajer keuangan berkaitan langsung dengan keputusan            pokok perusahaan yang akan mempengaruhi nilai perusahaan
Pendapat yang berbeda juga diungkapkan oleh Fuad, dkk (Pengantar Bisnis, 2006:167) mengenai peran dan tanggung jawab manajer keuangan yakni:
a)  Penganggaran Modal (Capital Budgeting)
Seluruh proses perencanaan dan pengambilan keputusan yang berkenaan dengan pengeluaran dana yang jangka waktu pengambilannya melebihi satu tahun disebut “Capital Budgeting” (Penganggaran Modal). Batas atau satu tahun tidaklah mutlak. Termasuk dalam kategori pengeluaran dana ini adalah pengeluaran dana untuk pengembalian aktiva tetap seperti tanah, bangunan, mesin-mesin dan peralatan lainnya.


Menurut Fuad (2006), penganggaran modal memiliki arti yang sangat penting karena:
1.      Dana yang dikeluarkan akan terikat untuk jangka waktu yang panjang, sama artinya perusahaan harus menunggu dalam jangka waktu yang panjang sampai keseluruhan dana yang tertanam dapat diperoleh kembali. Tentu saja keadaan ini akan mempengaruhi penyediaan dana untuk keperluan lainnya.
2.      Investasi dalam aktiva tetap menyangkut harapan terhadap hasil penjualan di masa yang akan datang. Kesalahan dalam membuat perkiraan akan mengakibatkan adanya over atau Underinvestment dalam aktiva tetap.
3.      Pengeluaran dana untuk pengeluaran tersebut pada umumnya melibatkan jumlah yang sangat besar, yang mungkin tidak dapat diperoleh dalam jangka pendek.
b) Penggolongan investasi aktiva tetap dan pemilihan alternatif.
Tersedia berbagai cara penggolongan usulan investasi dalam aktiva tetap, seperti :
a.       Investasi penggantian
Pada umumnya, kepurtusan mengenai investasi penggantian adalah yang paling sederhana. Dalam hal ini suatu aktiva yang sudah aus (wear_out) atau usang (absolute) harus diganti dengan aktiva baru bila produksi akan tetap dilanjutkan.
b.      Investasi penambahan kapasitas
Misalnya unsur penambahan jumlah mesin atau pembukaan pabrik baru. Investasi ini sering juga bersifat investasi pengganti, contohnya mesin yang sudah tua dan tidak efisien akan diganti dengan mesin baru yang lebih besar kapasitasnya dan lebih efisien.
c.       Investasi penambahan jenis produk baru
Investasi ini mempunyai tingkat ketidakpastian yang besar karena menyangkut produk baru disamping produk yang telah diproduksi.


d.      Investasi lain-lain
Investasi yang termasuk dalam golongan ini adalah usulan investasi yang tidak termasuk dalam ketiga golongan di atas, misalnya investasi untuk pemasangan alat pemanas, alat pendingin dan lain-lain.
c) Metode Penilaian Investasi
Untuk mengevaluasi dan menilai peng-anggaran modal dan investasi yang ditanamkan pada suatu proyek, dapat digunakan beberapa metode sebagai pertimbangan proses pengambilan keputusan investasi. Metode-metode tersebut yakni:
1. Metode Payback Period
Payback Period adalah jangka waktu yang diperlukan untuk mengembalikan biaya investasi yang ditanamkan pada suatu proyek. Karena itu satuan hasilnya adalah waktu (tahun atau bulan). Kalau periode payback suatu usulan investasi lebih pendek dari yang disyaratkan maka usulan investasi (proyek) dinyatakan diterima, bila sebaliknya investasi ditolak.
2. Metode Net Present Value (NPV)
Metode net Present value (NPV) merupakan metode atau teknik yang paling baik dalam mengetahui gambaran profitabilitas suatu proyek, karena metode ini memperhitungkan nilai waktu dari uang,. Metode ini menghitung selisih antara penerimaan nilai uang sekarang dengan nilai investasi yang ditanamkan. Dalam studi kelayakan proyek, yang dimaksud dengan nilai saat ini, adalah nilai pada  saat proyek selesai dibangun.
NPV = Present Value cash inflow - initial investment
Kriteria keputusan menggunakan NPV jika NPV > 0, maka investasi layak untuk dilaksanakan dan jika NPV < 0, maka investasi tidak layak untuk dilaksanakan, dan jika NPV > 0, perusahaan akan menerima pendapatan yang lebih besar dari cost of capital, sehingga merupakan keuntungan bagi perusahaan.


3. Metode Profitability Index (PI)
Metode Profitability Index (PI) ini merupakan metode yang memiliki hasil keputusan sama dengan NPV. Artinya, apabila proyek investasi diterima dengan menggunakan metode NPV maka akan diterima pula jika dihitung menggunakan metode Profitability Index (PI).
Formula metode ini:
PI =  Total PV dari Proceeds
                   investasi
Kriteria keputusan menggunakan PI jika PI > 1, maka investasi layak untuk dilaksanakan dan jika PI < 1, maka investasi tidak layak untuk dilaksanakan.
4. Metode  Accounting Rate of Return (ARR)
Metode ini  mengukur berapa tingkat keuntungan rata-rata yang diperoleh dari suatu investasi. Angka yang dipergunakan adalah averrage earning after tax yang dicapai perusahaan selama umur ekonomis dibandingkan dengan total atau averrage investment. Hasil yang diperoleh dinyatakan dalam prosentase. Angka ini kemudian dibandingkan dengan tingkat keuntungan yang disyaratkan, Apabila lebih besar dari pada tingkat keuntungan yang disyaratkan, maka proyek dikatakan menguntungkan, apabila lebih kecil dari pada tingkat keuntungan yang dsaratkan proyek ditolak.
Kelebihan dari metode ini adalah :
a.       Sederhana dan mudah dimengerti
b.      Metode ini menggunakan data akuntansi yang sedah tersedia sehingga tidak memerlukan perhitungan tambahan (Fuad,2006).
        Kelemahan utama dari metode ini adalah :
a.       Tidak memperhitungkan ”time value of money
b.      Menitik beratkan pada laba akuntansi dan bukan pada arus kas dari investasi bersangkutan
c.       Merupakan pendekatan jangka pendek dengan menggunakan angka rata-rata yang dapat menyesatkan
d.      Kurang memperhitungkan jangka waktu investasi (Fuad, 2006)
5. Metode Internal Rate or Return (IRR)
Metode Internal Rate of Return (IRR) ini menggambarkan profitabilitas suatu proyek yang dinyatakan dalam persentase. Internal Rate of return (IRR) adalah cara mengevaluasi profitabilitas rencana investasi proyek kedua, yang mempergunakan nilai waktu dari uang. IRR adalah discount rate yang apabila dipergunakan untuk mendiskonto seluruh nett cash flow, akan menghasilkan jumlah present value yang sama dengan nilai investasi proyek. Perhitungan IRR dilakukan pada NPV = 0 dimana nilai sekarang penerimaan sama dengan nilai investasi yang ditanamkan.
Kriteria keputusan dengan menggunakan metode IRR ini adalah jika nilai IRR > bunga modalnya (rate of capital), maka proyek layak untuk dilaksanakan dan investasi akan mendapatkan surplus setelah pembayaran kewajiban (mengembalikan modal + bunga). Jika nilai IRR < bunga modalnya, maka proyek tidak dapat dilaksanakan.

Kemudian mengenai tanggung jawab  manajer keungan itu sendiri dapat dijabarkan sebagai berikut :
1.      Manajer keuangan harus bekerjasama dengan para manajer lainnya yang bertanggung jawab atas perencanaan umum perusahaan.
2.      Manajer kuangan harus memusatkan perhatian pada berbagai keputusan investasi dan pembiayaan, dan berbagai hal yang berkaitan dengannya.
3.      Manajer keuangan harus bekerjasama dengan para manajer di perusahaan agar perusahaan dapat beroperasi seefisien mungkin.
4.       Manajer keuangan harus mampu menghubungkan perusahaan dengan pasar keuangan, dimana perusahaan dapat memperoleh dana dan surat berharga perusahaan dapat diperdagangkan
5.      Manajer keuangan harus menentukan perimbangan yang optimal setiap hutang yang digunakan perusahaan, setiap jenis asset perusahaan, dan kebijakan deviden perusahaan (Bagus Wiksuana, dkk:2001).
6.      Manager keuangan juga bertanggung jawab dalam memutuskan jangka waktu kredit bagi konsumen, berapa banyak kas dan persediaan yang harus disimpan, apakah untuk mengakuisisi perusahaan lainnya (analisis merger), dan berapa besarnya laba ditahan serta deviden yang harus dibayarkan perusahaan (Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston, 2001).


2.2  Konsep Dasar Manajemen Keuangan
2.2.1 Tujuan Perusahaan
Menurut Martono dan Agus Harjito, (Manajemen Keuangan, 2008:2) menguraikan tujuan perusahaan yaitu untuk mencapai keuntungan maksimal atau laba yang sebesar-besarnya dengan meminimalkan biaya yang harus dikeluarkan atau bisa juga tujuan perusahaan dikatakan untuk memakmurkan pemilik perusahaan atau para pemilik saham dengan memaksimalkan nilai perusahaan yang tercermin pada harga sahamnya. Sebenarnya tiap perusahaan memiliki tujuan perusahaan yang sama,hanya saja penekanan yang ingin dicapainya berbeda antara tujuan yang satu dengan yang lainnya.
Pendapat lain ada yang menyatakan bahwa tujuan perusahaan adalah mencapai laba sebesar-besarnya atau mencapai laba maksimal mengandung konsep bahwa perusahaan harus melakukan kegiatannya secara efektif dan efisien. Efektif berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai, sedangkan efisien  berkenaan dengan biaya yang seminimal mungkin untuk mencapai tujuan tersebut. Konsep laba merupakan konsep yang menghubungkan antara pendapatan atau penghasilan yang diperoleh oleh perusahaan disatu pihak, dan biaya yang harus dikeluarkan di pihak lain. Perusahaan berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh pendapatan. Disisi lain perusahaan menekankan biaya sekecil mungkin sehingga konsep efisiensi tercapai. Jika pendapatan diperoleh secara maksimal dan biaya yang dikeluarkan seminimal mungkin, maka akan tercapai laba yang maksimal. 
Berkaitan mengenai tujuan perusahaan itu sendiri, Martono dan Agus Harjito (Manajemen Keuangan, 2008:3) menjabarkan  ada 3 macam tujuan perusahaan, yakni :
1.   Mencapai atau memperoleh laba maksimal untuk kemakmuran pemilik perusahaan.
2.   Menjaga kelangsungan hidup perusahaan (going concern).
3.   Mencapai kesejahteraan masyarakat sebagai tanggung jawab social perusahaan.
2.2.2        Pengertian Manajemen keuangan (Financial Management)
Menurut Martono dan Agus Harjito (Manajemen Keuangan, 2008:4), menguraikan pengertian manajemen keuangan (Financial Management), atau dalam literature lain disebut pembelanjaan, yakni segala aktifitas perusahaan yang berhubungan dengan bagaimana memperoleh dana, menggunakan dana, dan mengelola asset sesuai tujuan perusahaan secara menyeluruh. Selain itu menurut Bagus Wiksuana, dkk (Manajemen Keuangan, 2001), manajemen keuangan  dapat diartikan sebagai manajmen dana dalam berbagai bentuk investasi secara efektif maupun usaha pengumpulan dana untuk pembiayaan investasi  atau pembelanjaan secara efisien.
Pendapat lain mengenai pengertian manajemen keuangan, menurut Organisasi. Org Komunitas dan Keputusan Online Indonesia (Definisi / Pengertian Manajemen Keuangan, Tugas Pokok Dan Tujuan Manajer Keuangan Perusahaan, 2008), yakni suatu kegiatan perencanaan, penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian, pencarian dan penyimpanan dana yang dimiliki oleh organisasi atau perusahaan.
Penjelasan singkat masing-masing fungsi manajemen keuangan, yaitu :
1.      Perencanaan Keuangan:
Membuat rencana pemasukan dan pengeluaraan serta kegiatan-kegiatan lainnya untuk periode tertentu.
2.      Penganggaran Keuangan
Tindak lanjut dari perencanaan keuangan dengan membuat detail pengeluaran dan pemasukan.
3.      Pengelolaan Keuangan
Menggunakan dana perusahaan untuk memaksimalkan dana yang ada dengan berbagai cara.


4.      Pencarian Keuangan
Mencari dan mengeksploitasi sumber dana yang ada untuk operasional kegiatan perusahaan.
5.      Penyimpanan Keuangan
Mengumpulkan dana perusahaan serta menyimpan dana tersebut dengan aman.
6.      Pengendalian Keuangan
Melakukan evaluasi serta perbaikan atas keuangan dan sistem keuangan pada paerusahaan.
7.      Pemeriksaan Keuangan
Melakukan audit internal atas keuangan perusahaan yang ada agar tidak terjadi penyimpangan.
Dengan kata lain manajemen keuangan merupakan manajemen (pengelolaan) mengenai bagaimana memperoleh asset, mendanai asset dan mengelola asset untuk mencapai tujuan perusahaan. Dari definisi tersebut Martono dan Agus Harjito (Manajemen Keuangan, 2008:4), menguraikan  3 (tiga) fungsi utama dalam manajemen keuangan, yaitu :
a.          Keputusan investasi (investment decision)
Penanaman modal dapat dilakukan pada aktiva riil ataupun aktiva financial. Aktiva riil merupakan aktiva yang bersifat fisik atau dapat dilihat jelas secara fisik, misalnya persediaan barang, gedung, tanah dan bangunan. Sedangkan aktiva financial merupakan aktiva berupa surat-surat berharga seperti saham dan obligasi. Keputusan investasi yang dilakukan perusahaan dapat dilakukan dengan beberapa langkah, yakni : pertama, manajer keuangan perlu menetapkan berapa asset secara keseluruhan (total asset) yang diperlukan dalam perusahaan. Kedua, dari asset yang diperlukan perlu ditetapkan komposisi dari asset-asset tersebut yaitu berapa jumlah aktiva tetap (fixed assets). Ketiga, untuk mencapai pemanfaatan asset secara  optimal maka asset – asset yang tidak ekonomis lagi perlu dikurangi, dihilangkan atau diganti dengan asset yang baru.
b.         Keputusan Pendanaan (Financing Decision)
Keputusan pendanaan akan mempelajari sumber-sumber  dana yang berada di sisi pasiva. Keputusan pendanaan meliputi beberapa hal yakni, pertama adalah keputusan mengenai penetapan sumber dana yang di perlukan untuk mendanai investasi berupa hutang jangka pendek dan hutang jangka panjang juga modal sendiri. Kedua, penetapan tentang perimbangan pembelanjaan yang terbaik atau sering disebut dengan struktur modal yang optimum. 
c.       Keputusan Pengelolaan Asset (asset management decision)
Pengalokasian dana yang digunakan  untuk pengadaan dan pemanfaatan asset menjadi tanggung jawab manajer keuangan. Aktiva lancar akan didanai dari hutang lancar yang jangka waktunya lebih panjang dari usia aktiva lancar dan sebagai hutang jangka panjang. Aktiva tetap yang tidak disusutkan seperti tanah akan dibiayai dengan modal sendiri dan laba perusahaan atau laba ditahan, sedangkan asset yang disusutkan seperti bangunan dan mesin serta peralatan dapat dibiayai dengan hutang jangka panjang dan modal sendiri.
2.2.3 Tujuan Manajemean Keuangan
Menurut Martono dan Agus Harjito (Manajemen Keuangan, 2008:12), menguraikan manajemen keuangan sebagai aktifitas memperoleh dana, menggunakan dana dan mengelola asset secara efisien membutuhkan beberapa tujuan atau sasaran. Untuk menilai apakah tujuan tersebut telah tercapai atau belum, maka dibutuhkan beberapa standar dalam mengukur efisiensi keputusan perusahaan. Sebagai tujuan normatif (seharusnya) tujuan manajemen keuangan berkaitan dengan keputusan dibidang keuangan untuk memaksimumkan nilai perusahaan. Secara lebih luas tujuan ini juga merupakan salah satu tujuan perusahaan.
  Tujuan memaksimumkan nilai perusahaan ini digunakan  sebagai pengukur keberhasilan perusahaan karena dengan meningkatnya nilai perusahaan berarti meningkatnya kemakmuran pemilik perusahaan atau pemegang saham perusahaan. Tujuan memaksimumkan kemakmuran pemegang saham tidak hanya secara langsung bermanfaat bagi pemegang saham tetapi dapat memberikan manfaat juga bagi masyarakat luas.
Dari uraian diatas, Martono dan Agus Harjito (2008:13) dapat diambil beberapa kesimpulan bahwa :
1)      Manajemen keuangan merupakan manajemen fungsi keuangan yang terdiri atas keputusan investasi, pendanaan (termasuk kebijakan deviden) dan keputusan pengelolaan asset.
2)      Tujuan manajemen keuangan adalah memaksimumkan nilai perusahaan (memaksimumkan kemakmuran pemegang saham) yang diukur dari harga saham perusahaan.
3)      Harga saham perusahaan merupakan refleksi dari keputusan – keputusan investasi, pendanaan (termasuk kebijakan deviden) dan pengelolaan asset.
2.2.4 Sumber Dana Perusahaan
Menurut Martono dan Agus Harjito (Manajemen Keuangan, 2008),  manajemen keuangan yang sering pula disebut dengan istilah pembelajaran adalah seluruh aktivitas perusahaan dalam rangka memperoleh dana, menggunakan dana dan mengelola asset. Dari pengertian tersebut  pembelanjaan perusahaan dibedakan menjadi 2 pengertian. Pertama , aktivitas perusahaan dalam memperoleh dana  disebut pembelanjaan pasif, dan kedua aktivitas perusahaan dalam menggunakan dana dan mengola hasil penggunaan dana tersebut (pengelolaan aset) dinamakan pembelanjaan aktif. Apabila dihubungkan dengan unsure-unsur yang ada pada neraca,  maka pembelanjaan pasif membahas unsur-unsur yang terdapat pada sisi pasiva. Sedangkan pembelanjaan aktif membahas unsure-unsur yang ada pada sisi aktiva. pembelanjaan pasif membahas unsur-unsur yang terdapat pada sisi pasiva merupakan aktivitas perusahaan untuk  memperoleh dana  dari sumber-sumber yang ada.
Berdasarkan sumbernya, dana berasal dari sumber intern (internal financing) dan sumber ekstern (external financing).   Secara skematis sumber dana perusahaan dapat digambarkan sebagai berikut:




Sumber: Martono dan Agus Harjito, (Manajemen Keuangan , 2008)
Gambar 2.2 : Sumber dana Perusahaan
 











Berdasarkan gambar 2.2 dapat dijelaskan bahwa sumber dana  perusahaan berasal dari dua, yaitu sumber eksternal dan sumber internal. Yang mana sumber dana eksternal (external financing) merupakan sumber dana yang berasal dari luar perusahaan. Artinya dana-dana tersebut tidak diperoleh dari kegiatan operasi perusahaan, melainkan diperoleh dari piha lain di luar perusahaan. Diantaranya dapat diperoleh  dari utang (pinjaman uang/dana dari pihak lain) maupun  dari modal sendiri  yang berasal dari pemilik perusahaan baik pemegang saham biasa maupun  saham preferen
Sumber dana internal  yang ada di perusahaan  terdiri atas  laba yang tidak terbagi (laba ditahan) dan depresiasi.  Apabila setelah pajak yang diperoleh perusahaan  tidak dibagi  kepada pemegang saham , maka laba tersebut  sebagai sumber dana internal. Hal ini karena laba tersebut diperoleh oleh perusahaan dalam melakukan kegiatan operasinya. Sedangkan depreasi dikatakan sebagai sumber dana internal karena depresiasi berasal dari kegiatan operasi perusahaan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam memilih sumber dana yaitu berkaitan dengan tingkat likuiditas, solvabilitas, dan rentabilitas ( profitabilitas) yang ingin dicapai perusahaan, Martono dan Agus Harjito (Manajemen Keuangan, 2008:18).
a.    Likuidiitas
Yaitu kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan (financial) jangka pendek atau segera dipenuhi. Kewajiban financial jangkan pendek tersebut meliputi kewajiban untuk membayar hutang jangka pendek (disebut likuiditas badan usaha) dan kewajiban untuk membiayai kegiatan operasi/produksi yang ada di perusahaan (disebut likuiditas perusahaan). Analisis likuiditas dapat dilakukan dengan menganalisis unsur-unsur neraca yang ada pada aktiva lancar dan hutang lancar.
b.    Solvabilitas
Yaitu kemampuan perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajiban financialnya yang terdiri atas hutang jangka pendek dan jangka panjang apabila pada saat itu perusahaan dilikuidasi atau dibubarkan. Jadi apabila pada suatu saat tiba-tiba perusahaan di likuidasi, maka apakah perusahaan dapat membayar seluruh hutang-hutangnya ? Apabila hasil penjualan harta (aktiva) perusahaan mencukupi untuk membayar seluruh hutangnya, maka perusahaan tersebut dalam keadaan solvable. sebaliknya jika seluruh hasil penjualan harta (aktiva) tidak dapat untuk membayar hutang-hutangnya maka perusahaan pada saat itu dalam keadaan tidak solvable (insolvable).
c.    Rentabilitas atau profitabilitas
Yaitu kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dari modal yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut. rentabilitas dibedakan menjadi dua macam, yaitu rentabilitas ekonomis dan rentabilitas modal sendiri. Rentabilitas ekonomis memperhatikan kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba operasi disbanding dengan total modal (aktiva) yang digunakan untuk memperoleh laba tersebut. Sedangkan rentabilitas modal sendiri di fokuskan pada kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba dibandingkan dengan jumlah modal sendiri yang digunakan untuk memperoleh laba tersebut. Laba yang diperhitungkan dalam rentabilitas ekonomis adalah laba operasi (Net Operating Income) atau laba sebelum bunga pajak (Earning Before Interest and Taxes) sedangkan rentabilitas modal sendiri memperhitungkan laba setelah pajak (Earning After Taxes).
Disamping likuiditas, solvabilitas, rentabilitas, sumber dana yang akan digunakan perusahaan juga perlu mempertimbangkan pedoman struktur finansial, struktur modal dan strukutur kekayaan. Struktur finansial merupakan perimbangan antara total hutang dibanding modal sendiri. Total hutang terdiri atas hutang jangka pendek dan hutang jangka panjang. Struktur modal merupakan perimbangan antara hutang jangkan panjang dengan modal sendiri. Sedangkan struktur kekayaan adalah perimbangan antara aktiva lancar dengan aktiva tetap. Apabila konsep struktur finansial dan struktur kekayaan digabungkan, kita mengenal istilah pedoman struktur finansial konservatif vertical dan struktur finansial konservatif horizontal. struktur finansial konservatif vertical menyatakan bahwa hutang sebaiknya tidak melebihi modal sendiri. sedangkan pedoman struktur finansial konservatif horizontal menyatakan bahwa untuk aktiva lancar tidak permanen boleh dibelanjai dengan hutang, sedangkan untuk aktiva lancar yang permanen dan aktiva tetap sebaiknya dibelanjai dengan modal sendiri dan hutang jangka panjang.

2.3 Pengelolaan Keuangan
Semua pengusaha tentu sependapat bahwa uang dan keuangan merupakan yang terpenting dalam kehidupan berusaha. Kedua merupakan darah dan napas perusahaan. Menurut pandangan manajemen modern dalam (Singgah Wibowo, Pedoman Mengelola Perusahaan Kecil, 2007:43), menguraikan bahwa uang dan keuangan adalah salah satu fungsi manajmen, di samping produksi, personalia, dan pemasaran. Karenanya, harus ada keseimbangan dalam pengelolaannya.
Pengelolaan keuangan sendiri diartikan sebagai suatu aktivitas melalui penggunaan dana perusahaan untuk memaksimalkan dana yang ada dengan berbagai cara (Organisasi. Org Komunitas dan Keputusan Online Indonesia, 2008).
Menurut Singgah Wibowo (Pedoman Mengelola Perusahaan Kecil, 2007),  mengelola keuangan dapat dilakukan dengan 6 cara yaitu:
1.      Kunci mengurus keuangan
2.      Mengelola system keuangan
3.      Menyusun anggaran keuangan
4.      Pengelolaan uang tunai (kas)
5.      Laporan Keuangan
6.      Analisis Nisbah

2.3.1 Kunci Mengurus Keuangan
Kunci utama dalam mengelola keuangan adalah pembukuan serta administrasi yang rapi dan tepat. Hal itu dikarenakan, pengendalian keuangan yang lemah dan administrasi yang kacau  menjadi salah satu penyebab utama gagalnya perusahaan.
Menurut Singgah Wibowo (Pedoman Mengelola Perusahaan Kecil, 2007), dalam mengelola keuangan harus memperhatikan hal-hal di bawah ini:
a.       Buatlah pembukuan yang teratur dan tertib. Catat semua uang yang masuk dan keluar dengan rincian jelas tentang jumlah, asal/tujuan, tanggal, dan keterangan lainya.
b.      Periksalah keabsahan semua bukti pembayaran. Jika pembayaran dengan cek, pastikan bahwa cek itu tidak kosong.
c.       Pisahkan harta pribadi dengan keuangan perusahaan.
d.      Tentukan gaji para tenaga kerja termasuk pemilik sendiri atau siapa pun yang digunakan tenaganya oleh perusahaan.
e.       Gunakan jasa bank dengan sebaik-baiknya.
f.       Buatlah anggaran untuk semua aspek keuangan dan dibandingkan dengan realisasinya.
g.      Adakan pemeriksaan keuangan secara bertahap dan teratur serta dibuat laporan keuangan yang baik.

2.3.2 Mengelola system keuangan
Mengelola system keuangan  ibarat memelihara jantung manusia agar dapat mengedarkan darah ke seluruh bagian tubuh sehingga bagian-bagian itu mampu  menjalankan fungsinya dalam (Singgah Wibowo, Pedoman Mengelola Perusahaan Kecil, 2007). Demikian pula dengan system keuangan, harus dikelola dengan sebaik mungkin sehingga seluruh dana dapat diedarkan ke semua bagian kegiatan usaha. Untuk itu, harus disediakan dana  yang cukup agar dapat menjalankan tugas sebaik-baiknya.
Setelah perusahaan siap operasi, harus disediakan dana untuk operasi, yaitu dana yang akan dibutuhkan untuk modal kerja dan tambahan investasi harta tetap. Untuk menjalankan kelangsungan usaha , modal kerja harus selalu ada dan diarahkan  kepadasedian perbekalan, sediaan untuk konsumen yang belum membayar (piutang), sediaan kas untuk gaji/upah dan biaya operasi produksi, penjualan, administrasi, dan lain-lain.
Lalu darimana dana diperoleh? Mula-mula tentunya dari pemilik sendiri atau dari rekan yang ikut menitipkan modalnya (usaha perorangan) atau ditambah lagi dari rekan komanditer (CV),  atau ditambah lagi dari rekan Persero (bentuk PT). Setelah usha beroperasi secara komersial,  dana tambahan akan diperoleh dari hasil penjuan, yaitu laba dan dana penyusutan.
Jika ingin memperbesar operasi tamabahan dana dapat diperoleh dari utang dagang, yaitu pembayaran mundur kepada pembekal. Dana bias juga dari menarik uang muka dari konsumen atau dari pihak pinjaman bank.
Dana tentu akan berkurang melalui pengeluaran. Jika perusahaan memperoleh laba, harus disediakan dana untuk dinikmati pemiliknya atau penyertaan modal dan untuk membayar pajak. Penggunaan dana yang lain adalah pembayaran bunga dan mengembalikan pokok pinjaman serta untuk menanggulangi jika terjadi musibah.
Bagaimana jika ternyata kekurangan atau kelebihan dana? Kedua-duanya harus dicegah jangan sampai terjadi. Kekurangan atau kelebihan dana merupakan pertanda kurang tepatnya pengelolaan keuangan . kekurangan uang akan menyebabkan  banyak program terbengkalia. Sementara itu, dana yang lebih berarti banyak sumber dana yang menganggur dan tidak efisien, terlebih lagi jika dana itu berasal dari pinjaman berbunga.
Pengelolaan harus mampu mengendalikan dana agar jangan sampai kurang atau berlebihan. Untuk itu, sebaiknya dibuatkan system pencatatan atau pembukuan sebaik-baiknya. Jangan menunggu setelah usaha mulai berkembang. Lakukanlah pembukuan sejak awal. Perlu diingat, rupa dan bentuk catatan itu dibuat sederharna mungkin, mudah diisi dan dirawat. Jika perlu, ada baiknya  untuk mencari tenaga kerja sendiri yang mahir untuk mengurusinya. Namun demikian secara garis besar pengelola harus paham dan dapat memanfaatkannya.

2.3.3 Menyusun anggaran keuangan
Banyak perusahaan, khususnya perusahaan kecil melakukan kegiatan usahanya tanpa rencana  dan hanya mengandalkan ingatan saja. Akibatnya, suatu ketika pengusaha akan kerepotan karena ruwetnya keuangan perushaan. Untuk itu, keuangan perusahaan perlu perlu dianggarakan terlebih dahulu sehingga semuanya dapat diperhitungkan dengan lebih tepat dan jelas.
Anggaran keuangan (budget) adalah suatu rencana jangka pendek yang sangat kuantitatif dan biasanya dinyatakan dalam ukuran uang anggaran ini disusun tahunan, lalu dirinci menjadi bulanan dalam (Singgah Wibowo, 2007). Anggaran ini akan menyangkut rencana pendapatan, pengeluaran, dan pembiayaan. Anggaran juaga dapat dipakai sebagai alat pengendali keuangan.
Biasanya yang dianggarkan dalam anggaran keuangan adalah penjualan, promosi, distribusi dan biayanya, pengadaan, biaya pegawai, dan biaya umum, neraca, laba rugi, serta arus uang tunai (kas). Untuk mempermudah penyusunan, mi\ula-mula disusun anggaran induk yang mencangkup semua rencana kegiatan usaha secara menyeluruh. Ini meliputi perkiraan pendapatan dan pengeluaran perusahaan untuk janga waktu 1 tahun atau 6 bulan. Selanjutnya anggaran dirincikan  ke anggaran bulanan. Setelah disusun diperiksa kembali anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Jika perlu, anggaran keuangan diadakan perbaikan dan perubahan. Sehingga, bilamana nanti terdapat/mucul suatu pemasalahan, nantinya dapat dipersiapkan cara mengatasinya.   

2.3.4 Pengelolaan uang tunai (kas)
Menurut Anthon (Peranan Pengendalian Intern Kas dalam Menunjang Efektivitas Pengelolaan Kas (Studi Kasus pada PT-X), 2003:32), manajemen kas atau pengelolaan kas merupakam salah satu fungsi manajemen dalam merencanakan  dan mengendalikan kas. Manajemen kas dapat dianggap sebagai suatu fungsi keuangan yang mendasar dalam kebanyakan perusahaan karena kas mempunyai kedudukan sentral dalam usaha sehari-hari, maupun bagi keperluan yang menunjang pelaksanaan operasi perusahaan. Jumlah kas yang memadai sangat penting bagi kelancaran usaha sehari-hari, maupun bagi keperluan yang menunjang pelaksanaan keputusan-keputusan strategis berjangka panjang seperti : usaha penelitian dan pengembangan, usaha perluasan kapasitas, dan sebagainya.
Tujuan utama perusahaan dalam mengelola kas pada dasarnya adalah meminimalkan resiko perusahaan  dalam keadaan insolvency, yaitu keadaan perusahaan yang tidak mampu lagi untuk membayar utang-utang tepat pada waktunya. Dalam keadaan demikian, perusahaan secara teknis boleh dikatakan bangkrut.
Jumlah kas yang berlebih atau kurang mempunyai akibat negative bagi perusahaan.  Kekurang kas mengakibatkan tidak terbayarnya berbagai kewajiban-kewajiban yang seyogyanya harus dipenuhi perusahaan seperti, hutang gaji, hutang pemasok atau suplaiyer, dan lain sebagainya. Begitu pula jika perusahaan memiliki modal yang berlebihan, hal itu berarti banyak sumber dana yang menganggur dan tidak efisien, terlebih lagi jika dana itu berasal dari pinjaman berbunga sehingga akan menaikkan beban tetap perusahaan.
Berdasarkan hal tersebut, Anthon dalam skripsinya (Peranan Pengendalian Intern Kas dalam Menunjang Efektivitas Pengelolaan Kas (Studi Kasus pada PT-X), 2003:33) menguraikan faktor-faktor yang harus didukung untuk mencapai tujuan dari manajemen kas yaitu sebagai berikut:
a.       Adanya anggaran kas yang direncanakan dengan baik yaitu dengan mengestimasi penerimaan dan pengeluaran kas untuk periode yang akan datang;
b.      Adanya pengelolaan atas penerimaan dan pengeluaran kas;
c.       Investasi yang terarah atas dana yang berlebihan;
d.      Menjalin hubungan baik dengan bank;
e.       Adanya pengendalian intern kas atas penerimaan dan pengeluaran kas.
Alasan perlu dilakukan pengelolan dan pengendalian kas adalah sebagai berikut:
1)      Kas merupakan aktiva lanacar yang mudah sekali disalahgunakan. Pengendalian terhadap kas harus dibentuk/diciptakan untuk meyakinkan bahwa kas milik perusahaan tidak disalahgunakan  untuk kepentingan pribadi oleh seorang dalam hubungannya dengan perusahaan;
2)      Keadaan kas harus selalu dalam keadaan seimbang (keadaan kas tidak boleh kelebihan maupun kekurang kas) pada suatu waktu tertentu.
3)      Kas bukan merupakan aktiva produktif (dimiliki tetapi tidak dapat memberikan pengembalian), sehingga tidak perlu memegang uang besar (yang melebihi jumlah yang dibutuhkan secara harian). Kas  yang lebih besar dari suatu jumlah yang dibutuhkan , harus diinvestasikan dalam surat berharga yang memberikan penghasilan dalam aktiva produktif lainnya (Anthon, 2003:33).

2.3.5 Laporan Keuangan
Satu hal yang amat penting dalam pengelolaan keuangan adalah membuat laporan keuangan. Laporan ini dibuat oleh tenaga yang menangani keuangan atau seorang akuntan atau dapat juga meminta bantuan ahli akunting berikut analisisnya. Dengan laporan ini , dapat diketahui penyimpangan yang terjadi  dan memungkinkan bagi semua pihak yang berkepentingan  untuk menilai usaha dan keadaan keuangan perusahaan secara menyeluruh.
Menurut Wibowo Singgih (Pedoman Mengelola Perusahaan Kecil,  2007), banyak bentuk laporan keuangan, tetapi yang paling bermanfaat adalah yang berupa neraca laporan laba rugiatau neraca pendapatan. Keduanya tidak hanya penting bagi urusan dalam perusahaan, tetapi juga  bagi pihak-pihak lain, bank, pembekal, penarik pajak, dan sebagainya. Dengan laporan neraca laba rugi akan dapat ditarik banyak kesimpulan mengenai apa yang telah terjadi, apa yang sudah dan belum efektif dan efisien, dan sebagainya. 
a. Neraca atau Daftar Keadaan  Keuangan
Neraca harus menggambarkan posisi keuangan perusahaan pada suatu saat, yaitu posisi harta, utang, dan modal.
Sebagai gambaran, tabel 2.3 menggambarkan contoh neraca.



C.V. HIGGNIS YANGYA
Neraca per 31 Desember 2006
Harta (AKTIVA)
Utang (PASSIVA)
Aktiva Lancar
Utang Lancar
Kas
7.500.000
P. jangka pendek
10.000.000
Bank
7.500.000
Utang dagang
20.000.000
Piutang
17.500.000
Utang Pajak
2.500.000
Sediaan
95.000.000
Jumlah U.Lancar
32.500.000
Pembayaran Dimuka
38.500.000


Jumlah A. Lancar
166.000.000
Utang jangka Panjang


KIK
80.000.000


KMKP
100.000.000
Aktiva Tetap
Jumlah UJP
180.000.000
Tanah
10.000.000
Modal

Kendaraan
42.500.000
Modal Setoran
80.000.000
Mesin dan Peralatan
55.000.000
Laba Tahun Lalu
10.000.000
Bangunan
35.000.000
Laba Tahun ini
6.000.000
Jumlah Aktiva Tetap
142.500.000
Jumlah Modal
96.000.000
Jumlah Aktiva
308.500.000
Jumlah Passiva
308.500.000
Sumber:  Wibowo Singgih,(2007:52)

b. Laporan Laba Rugi
Untuk membuat laporan laba rugi, diperlukan laporan harga pokok penjualan (HPP) serta biaya pemasaran dan administrasi.  Keterangan  penunjang ini bukan untuk pihak luar, tetapi untuk pihak pengelola saja. Perhitungannya didasarkan pada pendapatan, biaya dan ongkos produksi, biaya pemasaran, serta biaya administrasi.  Perhitungan ini juga  merupakan pelengkap bagi neraca keuangan sehingga keduanya dapat memberikan gambaran jelas tentang keadaan dan kemajuan perusahaan. Sebagai gambaran, tabel 2.4 menggambarkan contoh laporan laba rugi.








Tabel 2.4 C.V. HIGGNIS YANGYA
Perhitungan Laba Rugi
Selama 1 Januari-31 Desember 2006
Penjualan Bersih
452.400.000  

100%
HPP
(252.000.000)

56%
Laba Kotor


200.400.000
44%
Biaya Operasi Usaha




Biaya Penjualan




-          Gaji/upah
12.000.000



-          Komisi
19.800.000



-          Promosi
5.000.000



Jumlah Biaya Penjualan

36.800.000


Biaya A/U

89.000.000


Jumlah B. O. Usaha


125.800.000
28%
Laba Operasi


74.600.000
16%
Pendapatan & Biaya lain-lain




Laba penjulan A. tetap
34.000.000



Pendapatan lain
27.500.000



Tambahan Pen. Lain

61.500.000


Biaya Bungan & Utang

22.300.000


Tambahan Pen. Bersih


39.200.000
9%
Laba Sebelum pajak


113.800.000
25%
Biaya Pajak


22.620.000
5%
Laba Bersih


91.180.000
20%

Sumber:  Wibowo Singgih, (2007:54)

2.3.6 Analisis Nisbah
Dengan laporan keuangan, dapat dilakukan penilaian dan penilaian kembali (evaluasi) prestasi dan keadaan usaha. Caranya dengan membuat perbandingan yang disebut dengan rasio atau nisbah. Dari neraca laporan tersebut, dapat dibuat nisbah lancer, nisbah cair, dan nisbah kas yang dapat dipakai untuk menilai kemampuan perusahaan untuk membayar utang yang sewaktu-waktu harus dilunasi. Tabel 2.5 menyajikan contoh nisbah likuidasi perusahaan.




Tabel 2.5 Nisbah Likuidasi Perusahaan
NISBAH
PERHITUNGAN
INTEPRESTASI

Nisbah Lancar
    Harta Lancar
=
    Utang Lancar

= 166.000/32.500
= 5,1

Ini berarti bahwa untuk setiap rupiah utamg lancar tersedia harta lancer Rp. 5,1.
Berarti kemampuan perusahaan untuk membayar utang sangat besar atau istilahnya perusahaan sangat likuid.

Nisbah Cair

    H.Lancar-Persediaan
=
        Utang Lancar

=166.000-95.000
        32.500
=2,2


Ini berarti bahwa untuk setiap rupiah utang lancar tersedia Rp. 2,2 harta lancar
Nisbah Kas
= Utang tunai kas bank
       Utang Lancar

= 15.000/32.500
= 0,46

Ini berarti bahwa untuk setiap Rp. 1,00, utang lancer hanya tersedia uang tunai kas dan di Bank sebesar Rp. 0,46.
Artinya, perusahaan akan mengadapi kemungkinan adanya bahaya kekurangan uang tunai jika sewaktu-waktu ada tagihan.

Berdasarkan neraca akun dan perhitungan laba rugi, dapat dievaluasi apakah perusahaan dapat mencapai efektivitas dan efisiensi biaya ataukah tidak.

2.4 Perencanaan Keuangan
Suad Husnan dan Enny Pudjiastuti (Dasar-dasar Manajemen Keuangan, 1994:49) Perencanaan keuangan dimaksudkan untuk memperkirakan bagaimana posisi keuangan perusahaan di masa yang akan dating. Termasuk didalam perkiraan tentang berapa banyak pendanaan ekstern yang harus dicari. Sebelum menyusun rencana keuangan, manager keuangan perlu memahami bagaimana arus kas dalam perusahaan. Perencanaan keuangan merupakan kegiatan untuk memperkirakan posisi dan kondisi keuangan perusahaan di masa yang akan dating (bisa jangka pendek bisa pula jangka panjang). Untuk menyususn rencana keuangan tersebut dipergunakan serangkaian asumsi, baik yang menyangkut hubungan antar variable-variabel keuangan maupun keputusan-keputusan keuangan.
Agnes Sawir (Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan, 2005:90) Perencanaan keuangan mencakup penjualan, laba, dan aktivitas yang didasarkan pada alternative strategi produksi dan pemasaran, untuk kemudian menentukan bagaimana memenuhi kebutuhan permodalan. Bila ternyata hasil actual tidak sesuai dengan proyeksinya, perencanaan keuangan harus dapat mengidentifikasikan perubahan-perubahan potensial yang mungkin akan memberikan hasil yang memuaskan.
Mengenai proses perencanaan keuangan itu sendiri, Agnes Sawir dalam bukunya Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan (2005:90) menjabarkan sebagai berikut:
1.      Menganalisis pendanaan dan pilihan investasi yang terbuka bagi perusahaan.
2.      Memproyeksikan konsekuensi masa yang akan datang akibat keputusan saat ini, guna menghindari hal yang tak terduga dan hubungan antara keputusan saat ini dan masa yang akan datang.
3.      Menentukan alternatif mana yang akan dipilih.
4.      Mengukur hasil selanjutnya terhadap tujuan dalam rencana keuangan.
Perencanaan keuangan biasanya berupa performa neraca, laporan laba-rugi, dan laporan sumber dan penggunaan dana, serta rencana pengeluaran modal berdasarkan kategori dan divisi atau lini bisnis. Rencana dan anggaran keuangan merupakan alat untuk memandu perusahaan dalam merumuskan kebijakan yang tepat dan dalam melakukan penyesuaian yang segera terhadap perubahan di bidang ekonomi dan perubahan persaingan yang selalu terjadi di dunia usaha.
Syarat untuk perencanaan yang efektif adalah sebagai berikut :
1.      Peramalan
Perusahaan tidak akan pernah dapat melakukan peramalan yang tepat secara sempurna.
2.      Menentukan rencana keuangan yang optimal
Seorang manajer keuangan yang baik harus dapat menilai rencana mana yang terbaik untuk perusahaannya.
3.      Melihat rencana keuangan berjalan
Rencana jangka panjang digunakan juga sebagai tolok ukur untuk menilai hasil yang dicapai pada masa mendatang, Agnes Sawir (2005:91).
M. Fuad, dkk (Pengantar Bisnis, 2006) menyatakan bahwa kunci dari manajemen keuangan yang efektif adalah pembuatan rencana keuangan. Rencana keuangan adalah rencana usaha untuk mencapai posisi keuangan yang dicari di masa yang akan datang. Untuk membangun rencana keuangan, perlu dicermati beberapa pertanyaan berikut :
a.       Berapa jumlah dana yang harus dimiliki perusahaan agar dapat menutup kebutuhan jangka pendeknya ?
b.      Kapan dana tersebut dibutuhkan ?
c.       Dari mana diperoleh untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek maupun jangka panjangnya ?
            Untuk menjawab semua pertanyaan tersebut, manager keuangan harus membuat gambaran yang jelas, mengapa mereka membutuhkan dana disertai dengan perkiraan berapa biaya dan manfaat yang diperoleh dari sumber dana yang akan dipilih.

2.4.1 Mengapa Perusahaan membutuhkan Dana ?
 Setiap perusahaan membutuhkan dana untuk tetap beroperasi, karena kegagalan dalam membayar pemasok dapat membuat bangkrutnya usaha. Manager harus dapat membedakan dua jenis pengeluaran, yaitu pengeluaran jangka pendek atau operasional (short term/operating expenditures) dan pengeluaran jangka panjang (long term/capital expenditures).
a.       Pengeluaran jangka pendek (short term/operating expenditures) Pengeluaran jangka pendek adalah pengeluaran yang muncul dalam aktivitas bisnis sehari-hari. Pengeluaran jangka pendek meliputi dana yang ditanamkan  pada persediaan (baik persediaan bahan baku, barang dalam proses, maupun barang jadi), pengeluaran untuk pembayaran upah dan gaji karyawan, serta biaya operasi lainnya.


b.      Pengeluaran jangka panjang (long term/capital expenditures)
Sebagai tambahan untuk memenuhi kebutuhan dana bagi pengeluaran operasionalnya. Perusahaan juga membutuhkan dana untuk membiayai pengeluaran aktiva tetap. Aktiva tetap adalah aktiva yang memiliki nilai dan masa pemakaian panjang. Sebagai contoh aktiva tetap adalah investasi tanah, gedung, dan pembelian mesin-mesin (Fuad, Pengantar Bisnis 2008).

2.4.2 Pembelanjaan atau Pembiayaan Perusahaan (Corporate Financing)
            Untuk memenuhi kebutuhan akan pengeluaran jangka pendek maupun jangka panjang, perusahaan membutuhjan dana yang tidak saja dapat dipenuhi oleh kemampuan modal awal dari pemilik serta kemampuannya dalam menghasilkan laba, tetapi juga dana dari luar perusahaan seiring dengan perkembangan kemajuan usahanya. Dilihat dari jangka waktunya,sumber dana dibedakan menjadi sumber dana jangka pendek dan sumber dana panjang. Sedangkan asal sumber dana dibedakan menjadi sumber dana internal dan sumber dana eksternal (Fuad,dkk, Pengantar Bisnis, 2006).
a.      Sumber Dana Jangka Pendek
Sumber dana jangka pendek meliputi :
1.      Trade Credit (Utang dagang)
Utang dagang disamping dapat merupakan pengeluaran, dapat pula berfungsi sebagai sumber dana bagi perusahaan pada saat barang telah dapat diterima tetapi pembayarannya diserahkan kemudian. Pemberian kredit dari satu perusahaan ke perusahaan lain merupakan pinjaman jangka pendek dan sumber dana jangka pendek bagi perusahaan.
2.      Pinjaman Bank Jangka Pendek dengan Jaminan (Securade Short Term Loan)
Bagi banyak perusahaan, pinjaman bank merupakan sumber dana jangka pendek yang sangat penting. Pinjaman tersebut hampir selalu menyertakan suatu surat perjanjian utang yang disebut dengan promissory notes yang menyatakan kesanggupan perusahaan untuk membayar pinjaman beserta bunga yang telah disepakati. Dalam jenis pinjaman ini bank juga mensyaratkan adanya jaminan (kolateral) yang memberikan hak kepada bank untuk menyita jaminan tersebut bilamana pinjaman tidak dapat dilunasi. Kelemahan mendasar dari jenis pinjaman ini ialah biaya dan syarat administrasi yang menyertainya. Surat utang dan jaminan harus dievaluasi. utang bank dengan jaminan ini memberikan manfaat bagi perusahaan yang tidak memiliki akses terhadap sumber pinjaman tanpa jaminan. Persediaan (inventory), piutang, dan aktiva lain dapat berfungsi sebagai jaminan.
3.      Pinjaman Jangka Pendek Tanpa Jaminan (Unsecurade Short Term Loan)
Pinjaman ini merupakan sumber dana jangka pendek yang penting bagi perusahaan. Melalui hal ini perusahaan tidak perlu menyerahkan jaminan kepada bank. Tetapi biasanya bank mensyaratkan peminjam untuk tetap memiliki saldo dana minimum di bank (compensating balance). Dalam hal ini perusahaan harus mempertahankan jumlah minimum tertentu dari pinjaman untuk tetap mengendap di bank. Peminjaman tetap harus membayar bunga untuk dana yang mengendap tersebut, sehingga biaya riil (setelah memperhitungkan dana yang tertanam ini) dari bunga yang harus dibayar menjadi lebih tinggi.
4.      letter of credit
letter of credit adalah janji tertulis dari bank bagi pihak pembeli untuk membayar sejumlah uang kepada perusahaan yang dituju (penjual) bila sejumlah kondisi telah terpenuhi. pada umumnya letter of credit dipergunakan dalam perdagangan internasional, antara pembeli yang merupakan importir dan penjual yang merupakan eksportir.
5.      Commercial Paper
Commercial paper adalah surat berharga yang diterbitkan dan dijual oleh perusahaan besar dan terpercaya untuk memenuhi kebutuhan jangka pendeknya. Commercial paper diterbitkan dengan nilai nominal tertentu untuk jangka waktu tertentu (30, 60, 90, 270, atau 360 hari). Surat berharga ini dijual kepada lembaga keuangan atau perusahaan lain dengan harga yang lebih rendah dari nilai nominalnya dan pada akhir periode, surat berharga ini dibeli kembali oleh perusahaan sebesar nilai nominalnya. Perbedaan antara harga beli dan jual kembali dari commercial paper merupakan keuntungan yang dapat dibeli.
6.      Factoring
Perusahaan dapat memperoleh dana dengan tepat melalui factoring, yaitu dengan menjual piutang perusahaan kepada perusahaan faktor (perusahaan pembeli piutang) yang biasayanya adalah lembaga keuangan. Perusahaan faktor membayar sejumlah presentase tertentu dari nilai piutang. Besarnya presentase yang ditawarkan tergantung pada kualitas piutang, biaya penagih piutang, dan tingkat bunga yang berlaku.
b.      Sumber Dana jangka panjang
Pada umunya perusahaan membutuhkan dana jangka panjang untuk membiayai pengeliaran jangka panjangnya., seperti pembelian aktiva tetap. Agar bisa memulai usahanya, perusahaan harus mengeluarkan dana untuk bangunan dan peralatan. Pencarian dana jangka panjang ini dapat diperoleh dari luar perusahaan berupa pembiayaan melalui utang (debt financing) maupun dari dalam perusahaan  dengan pembelanjaan sendiri dari modal (equity financing).
1.      Pembiayaan melalui Utang
Pinjaman jangka panjang dari luar (debt financing) merupakan komponen utama dari perencanaan jangka panjang yang banyak dilakukan oleh perusahaan. Dua sumber utama dana ini adalah utang jangka panjang dan penjualan obligasi perusahaan.
a.    Utang jangka panjang
     Perbedaan utang jangka panjang dan utang jangka pendek terletak pafa jangka waktu pengembalian uang. Waktu pengembalian utang jangka panjang adalah lebih dari satu tahun. Pada umumnya perusahaan memperoleh utang jangka panjang dari bank. Tetapi, pada Negara dengan sistem keuangan yang telah maju, perusahaan dapat pula memperolehnya dari lembaga keangan lain seperti lembaga pembiayaan, perusahaan asuransi maupun dana pensiun. Karena keterikatan dana yang lebih lama dari pada utang jangka pendek, pada umunya tingkat bunga yang disyaratkan pun lebih tinggi. Alternative pinjaman jangka panjang lebih disukai dari pada obligasi karena pilihan ini tidak mensyaratkan adanya keterbukaan informasi keuangan perusahaan kepada public. Sedangkan kelemahannya, adanya kebutuhan dana jangka panjang yang besar menyebabkan sulit terpenuhi oleh lembaga keuangan yang ada (keterbatasan kemampuan lembaga keuangan untuk memasok dana dalam jumlah besar). Tingkat bunga yang dinegosiasikan antara peminjam dan bank [ada umumnya mengambang dan terikat pada prime rate, yaitu tingkat bunga bank yang diberlakukan bagi nasabah besar terpercaya.
b.   Obligasi perusahaan
     Obligasi adalah surat berharga yang diterbitkan perusahaan, yang menyatakan kesanggupan membayar sejumlah uang tertentu kepada pemegang surat berharga pada waktu tertentu. Selama waktu kontrak atau masa berlakunya obligasi, perusahaan penerbit harus membayar bunga per periode (tahunan atau semi tahunan) sesuai dengan tingkat bunga yang tertera pada obligasi. Jangka waktu kontrak umumnya cukup panjang, misalnya 10 tahun, 15 tahun, 20 tahun, atau bahkan 30 tahun. Termin dari obligasi ini berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan lain dalam kaitannya dengan masa berlaku., tingkat bunga, masa jatuh tempo, dan jaminan yang terikat pada obligasi tersebut. Obligasi merupakan pilihan yang tepat bagi perusahaan yang membutuhkan dana dalam jumlah besar. Dengan menerbitkan obligasi, perusahaan memiliki akses sumber dana dari banyak pihak ketiga, termasuk public. Tetapi, biaya untuk menerbitkan obligasi juga besar disamping prosedur yang harus dipenuhi cukup rumit. Tingkat bunga yang dibayarkan juga akan lebih tinggi bagi perusahaan yang kurang populer. Terkait dengan obligasi, terdapat sistem rating atau peringkat bagi penerbit obligasi yang nilainya tergantung pada kredibilitas perusahaan bersangkutan. Perusahaan dengan kredibilitas tinggi akan mendapat peringkat tinggi, sehingga tingkat bunga yang dibayarkan lebih rendah dari pada perusahaan dengan peringkat rendah.
2.      Pembiayaan dengan Modal Sendiri (Equity Financing)
Pembiayaan dengan modal sendiri terkait dengan modal pemilik, penggunaan laba ditahan, dan saham biasa dalam rangka memperoleh dana bagi pemenuhan kebutuhan pengeluaran jangka panjang.
a.         Saham biasa
       Saham adalah bukti kepemilikan suatu perusahaan. Saham biasa adalah surat berharga yang memberikan hak suara kepada pemilik serta merupakan penerima hak terakhir atas asset perusahaan setelah pemegang obligasi dan saham preferen. Saham prefer adalah saham yang menjamin pembayaran deviden tetap kepada pemilik tetapi tanpa hak suara. Pemegang saham preferen merupakan penerima hak yang lebih dulu atas asset daripada pemegang saham biasa. Deviden adalah bagian laba yang dibagikan kepada pemegang saham, baik pemegang saham biasa maupun pemegang saham preferen. Perusahaan dapat memperoleh dana untuk pengeluaran jangka panjangnya melalui penerbitan saham biasa. Ketika perusahaan pertama kali menerbitkan saham biasa pada pasar perdana disebut sebagai Initial Public Of Offering (IPO). Prosedur yang harus dilalui untuk dapat melakukan IPO cukup panjang dan rumit. Jadi perusahaan harus menentukan terlebih dahulu lembaga keuangan yang akan menjadi penjamin emisi (penerbitan saham ini). Dari negosiasi dengan penjamin emisi perusahaan dapat menentukan beberapa harga saham yang layak untuk dipasarkan, serta berapa banyak lembar saham yang harus diterbitkan untuk dapat memenuhi dana jangkan panjang yang dibutuhkan. Untuk penerbitan saham, harus dikeluarkan biaya yang cukup besar. Selain itu, setelah penerbitan saham perusahaan harus menyisihkan sebagian laba yang diperoleh tiap periode untuk kepeluan deviden bagi para pemilik saham biasa.
b.        Laba ditahan
       Alternative lain untuk pembiayaan modal sendiri adalah laba ditahan, yakni bagian laba yang tidak dibagikan kepada pemegang saham. Dengan menggunakan laba ditahan berarti perusahaan tidak perlu meminjam uang dan membayar bunga.

3.      Pembiayaan dengan Obligasi yang dapat Dikonversi (Convertible Bond)
Convertible bond adalah penerbitan obligasi perusahaan yang mengandung pilihan bagi pemegangnya, sehingga setelah jangka waktu tertentu dan dipenuhinya syarat tertentu dapat dikonversikan menjadi saham biasa.

Kesimpulan pemilihan alternative pembiayaan perusahaan
prinsip yang penting dalam pemilihan pembiayaan perusahaan adalah kecocokan atau matching antara sifat kebutuhan dan jenis pembiayaan. Kebutuhan investasi jangka pendek harus dipenuhi dengan pembiayaan jangka pendek. Jadi, investasu untuk persediaan barang, piutang yang bersifat jangka pendek, sebaiknya dipenuhi oleh utang dagang, utang bank jangka pendek, dan sebagainya. Sedangkan investasi jangka panjang seperti pembelian tanah, gedung, mesin-mesin yang sifatnya jangka panjang harus dipenuhi oleh alternative pembiayaan jangka panjang seperti utang bank jangka panjang, obligasi, penerbitan saham, maupun pemakaian laba ditahan. Ketidakmampuan manager keuangan untuk mengelola keseimbangan antara sifat investasi dan alternative pembiayaan akan berdampak besar pada kelangsungan usaha. Pilihan terhadap jenis pembiayaan memiliki konsekuensi yang menyangkut biaya, keterikatan waktu dan penggunaan. Pilihan keseimbangan antara penggunaan utang dan modal sendiri disebut struktur permodalan. Disinilah peran penting perencanaan keuangan, karena menyangkut aspek pengeluaran/investasi maupun alternative pendanaan yang akan digunakan. Dengan perencanaan yang akurat pada kedua sisi akan dapat dihindari kesalahan dalam pengelolaan keduanya. 

2.4.3 Tujuan Perencanaan Keuangan
Secara singkat tujuan perencanaan keuangan adalah untuk:
1)      Menyiapkan pembayaran setiap kebutuhan hidup Anda
2)      Untuk berjaga jaga terhadap kebutuhan yang muncul secara mendadak
3)      Investasi, Edward Simangunsong dalam (Dini Djohan, Tujuan Perencanaan Keuangan. 2008). 
Selain untuk mencapai tujuan-tujuan keuangan, perencanaan keuangan juga diperlukan untuk mengatasi hal-hal seperti :
a.       Tingginya biaya hidup saat ini;
b.      Naiknya biaya hidup dari tahun ke tahun; 
c.       Keadaan perekonomian yang tidak menentu; 
d.      Fisik manusia tidak akan selalu sehat dan
e.       Banyaknya alternatif produk keuangan, Edward Simangunsong dalam (Dini Djohan, Tujuan Perencanaan Keuangan, 2008).


Daftar Pustaka
Anthon. 2003. Peranan Pengendalian Intern Kas dalam Menunjang Efektivitas Pengelolaan Kas (Studi Kasus pada PT-X). Bandung: Universitas Widyatama.

Brigham, Eugene dan Houston, Joel. 2001. Manajemen Keuangan. Edisi Kedelapan. Buku I. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Dini Djohan. 2008. Tujuan Perencanaan Keuangan.Jakarta.

Erlina. 2002. Manajemen Keuangan. Sumatera Utara: 2002 digitized by USU digital library.

Husnan, Suad dan Pudjiastuti, Enny. 1994. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.

Martono dan Agus Harjito. 2008. Manajemen Keuangan.Yogyakarta: EKONISIA Kampus Fakultas UII Yogyakarta

M. Fuad, dkk. 2006. Pengantar Bisnis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Organisasi.Org Komunitas dan Keputusan Online Indonesia. 2008. Definisi / Pengertian Manajemen Keuangan, Tugas Pokok Dan Tujuan Manajer Keuangan Perusahaan:  Copyright © 2005-2011 Organisasi.Org.

 

Sawir, Agnes. 2005. Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Weston, Fred, dkk. 1994. Manajemen Keuangan. Edisi Kedelapan. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Wibowo, Singgih. 2007. Pedoman Mengelola Perusahaan Kecil. Depok: Penebar Swadaya.

Wiksuana, bagus, dkk. 2001. Manajemen Keuangan. Denpasar: UPT Penerbit Universitas Udayana.

1 komentar:

  1. Terimakasih atas informasinya, sangat membantu.
    salam kenal dari saya mahasiswa fakultas Ekonomi :)

    BalasHapus